17 Maret 2012

PEMIMPIN DAN HASTABRATA

oleh Sonny Sumarsono Wuryadi pada 28 Januari 2012 pukul 16:38 ·
Bapak saya dulu boleh dikata adalah seorang pemimpin, meskipun cuma di daerah, dan tidak pula terkenal namanya. Namun sebagai pemimpin, beliau selalu menasehatkan kepada kami anak-anaknya, bahwa seorang pemimpin itu harus bisa menjalankan sesanggeman atau filosofi Jawa yang disebut " hastabrata".  Artinya seorang pemimpin harus berwatak 8, yaitu berwatak layaknya : bumi, api, air, angin, matahari, bulan (chandra), bintang (kartika), dan langit (angkasa). Lantas beliau menguraikan satu persatu.
  1. Berwatak seperti bumi artinya : Bumi adalah tempat berpijak, dan tempat untuk tumbuhnya berbagai tumbuhan yang berbuah dan berguna bagi umat manusia. Jadi seorang pemimpin juga harus menjadi tumpuan bertumbuh dan berkembangnya semua orang.
  2. Berwatak layaknya agni ( api ) artinya : Api sanggup membakar apa saja yang menjadi musuh. Api juga bisa mematangkan apa saja yang diperlukan. Tentu saja yang dimaksudkan beliau adalah dalam arti yang konstruktif ! Dalam hal ini ditandaskan oleh beliau, bahwa seorang pemimpin harus bisa punya kesanggupan dan keberanian untuk melenyapkan hal2 yang menghambat dinamika kehidupanbangsa & negara, misalnya : angkara murka, rakus, korupsi dsb.
  3. Berwatak bagaikan tirta ( air ) artinya : Air selalu mengalir dinamis, maka seorang pemimpin harus memiliki watak rendah hati, andap asor, santun, tidak sombong. Pemimpin yang baik harus mampu mendistribusikan kekuasaan dan kewenangannya, agar tidak menumpuk, dan tugaspun dapat terlaksana dengan cepat dan lancar. Sebagai pemimpin harus adil dalam menjalankan kebijakan, terutama yang terkait dengan hajat hidup orang banyak.
  4. Berwatak sebagai angin artinya : Seperti layaknya angin yang memberi suasana semilir sejuk. maka seorang pemimpin harus bisa memberikan hak hidup seluruh warganya. Hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak, mengembangkan diri, mendapatkan pekerjaan, menyampaikan pendapat, dan berkebudayaan.
  5. Berwatak seperti surya ( matahari ) artinya : Seorang pemimpin harus bisa menjadi penerang kehidupan dan bisa memberikan energi kehidupan bagi masyarakatnya.
  6. Berwatak laksana chandra ( bulan ) artinya : Bulan itu memberikan terang dalam kegelapan dengan sinarnya yang lembut. Karena itu pemimpin harus penuh kearifan, disamping harus sebagai seorang visioner.
  7. Berwatak bagaikan kartika ( bintang ) artinya : Seorang pemimpin harus bisa menjadi panutan, dan bisa menyelami perasaan masyarakatnya.
  8. Berwatak layaknya angkasa ( langit ) artinya : Langit yang membentang luas di angkasa, menyiratkan bahwa seorang pemimpin harus mempunyai keleluasaan hati, perasaan, dan pikiran dalam menghadapi persoalan bangsa dan negara. Sabar, ikhlas, dan bening dalam memberikan pelayanan kepada warganya.
Rupanya sesanggeman itulah yang dijalankan oleh beliau saat mengabdi pada negara dan bangsa ini, pada jaman setelah kemerdekaan. Apakah hastabrata ini masih relevan dan dibutuhkan pada jaman yang sudah berubah ini ? Itu terserah pada pendapat anda dan bangsa ini ! Namun bagi saya bersaudara, petuah ini sangat berarti, dan kamipun mencoba untuk melaksanakannya dalam kehidupan....meskipun hanya sebagai pemimpin rumah tangga ! Hmmm.....


Bukit Indah, 27 Pebruari 2012
Sonny Sumarsono Wuryadi

1 komentar: